Pengamen-pengamen sekarang sering
dianggap mengganggu kenyamanan warga. Seperti halnya pengamen di tepi laut
mereka biasanya mulai bergerak dari sore hari hingga tengah malam. Dan
merekapun tidak sendiri-sendiri tapi ada beberapa kelompok, satu kelompok
berjumlah 3 s/d 5 orang. Mereka mendatangi orang-orang yang sedang duduk santai
secara bergilir lalu bernyanyi dan memungut upah dari pendengar.
Pengamen adalah profesi yang dimana
sering diperankan oleh anak-anak muda, mereka menjual jasanya dengan bernyanyi
menggunakan berbagai alat music seperti girt, gendang buatan dll. Dengan
bernyanyi di tepi-tepi jalan atau di tempat-tempat orang bersantai mereka
biasanya mendapatkan uang seikhlasnya.
“ Hampir setiap minggu saya duduk
malam di tepi laut sambil nebikmati bandrek disana. Dari jam 8 malam hingga 10
malam itu sudah 5 kelompok pengamen yang menhampiri saya, setiap kelompok
pengamen saya beri 2 ribu rupiah. 5 kali sudah 10 ribu. Kalau saya tidak member
uang, saya takut mereka bertindak kasar.” ujar Hendy pemuda 22 tahun yang juga
mantan pengamen.
Selain itu, warga juga beranggapan
kalau pengamen-pengamen tersebut rata-rata preman dan tidak bersekolah, dan
mereka sempat dianggap mengganggu kenyamanan seseorang pada saat bersantai.
“ Pengamen-pengamen tersebut
rata-rata tidak bersekolah. walaupun tidak semua para pengamen tersebut jika
setelah beroperasi dan mendapatkan uang, mereka membeli minuman keras, rokok
dan lain-lain. Bukannya saya tidak suka dengan pengamen tetapi jika
pengamen-pengamen itu lebih teratur dan tidak beroprasi di satu lahan saja
mungkin warga tidak merasa terganggu. Maka dari itu saya harap
pengamen-pengamen agar lebih bisa membagi lahan agar warga tidak terganggu.”
tambahnya.
Kepada pemerintah agar lebih
menyediakan lapangan kerja untuk para penganggur di Tanjungpinang ini atau
membuat persatuan resmi untuk para pengamen agar bisa lebih teratur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar