Selasa, 25 Juni 2013

DUA TANGAN YANG BERBEDA MENGINGINKAN TEPI LAUT

DUA TANGAN YANG BERBEDA MENGINGINKAN TEPI LAUT

 TG.PINANG : Selasa (1/5) Pada malam hari, kawasan Tepi Laut sekarang sudah dipenuhi dengan orang yang membuka perdagangan disitu, seperti di Melayu Square (MS) didalamnya ada tempat minuman,jual-jual mainan atau asesoris dan lain-lain. Berbeda nasib dengan pedagang minuman yang menyelimuti kawasan tepi laut, mereka dikenakan seakan akan menjadi dua kawasan yaitu khususnya kawasan (laoak) yang pas didepan KOP Marinir itu dipegang oleh KOP Marinir itu sendiri, dan dengan biaya perbulannyapun juga berbeda. Salah satu pedagang minuman didepan KOP Marinir mengatakan “ Kawasan ini dipegang oleh KOP Marinir dan kami dijanjikan soal keamanan bisa terjaga dengan biayayang berbeda dengan yang lain, seharusnya Rp 1.025.000 tiap bulannya. Tapi pendapatan saya terkadang tidak cukup hingga saya hanya bisa membayar 70% dari itu.” itu lahtanggapannya sebut saja MARWAN (29 tahun) yang juga pedagang minuman. Seperti DI kawasan Anjung Cahata yang dipegang oleh Pemerintah Kota (PEMKO), disana para pedagang minuman memiliki ikatan persatuan yang bertanggung jawab apabila ada musibah. Biaya perbulannyapun hanya Rp 15.000 tiap harinya. “ Disana (dari Anjung Cahaya hingga sebelum depan KOP Marinir) mereka memiliki persatuan yang menanggung pembiayaan pedagang apabila terkena musibah, cukup berbeda jauh dengan kami mereka hanya menyetor uang sewa tempat hanya Rp 15.000 tiap malamnya/hari. Bahri si pedagang minuman didepan MS. Sudah sejak dari dulu perebutan kawasan Tepi Laut ini terjadi namun belum ada kesepakatan dari PEMKO maupun Marinir. Marinir memiliki alas an yang cukup kuat untuk mengambil alih kawasan tersebut, jika PEMKO tidak peduli terhadap pedagang-pedagangh maupun kawasan tersebut. “ Kemarin saya juga pernah mendengar kalu PEMKO dan Kep Marinir beradu argument tentang kawasan, namun sampai sekarang belum ada kesepakatan. KOP Marinir memegang kawasan didepan kantornya itu dan menarik uang bulanan dengan alas an karena mengganggu penglihatan dan pemandangannya. Kami sebagai orang bawah yang menumpang lahan hanya bisa mengikuti apa yang mereka inginkan.” tambah Marwan. Selain itu, seluruh pedagang di Tepi Laut pernah mendapat janji bantuan uang dari salah satu Partai sebesar 1 juta/gerobak, lalu setelah dipenuhi semua berkas-berkas persyaratan kemudian diajukuan ternyata sampai sekarang (1/5) beum ada kabar, padahal dijanjikan bahwa bulan Juni 2013 dana tersebut sudah cair.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar