Rabu, 26 Juni 2013

SEJARAH KOTA TANJUNGPINANG


SEJARAH KOTA TANJUNGPINANG


Kota Tanjungpinang  termasuk salah satu kota tertua di Indonesia. Bila dihitung sejak dilantiknya Tengku Sulaiman menjadi Sultan Riau-Johor-Pahang (Kerajaan Riau) yang berpusat di Hulu Riau –Sungai Carang, 4 Oktober 1722 maka usia Kota Tanjungpinang sudah berumur 291 tahun. Jika dimundurkan kepada tatkala dibuka pertama oleh Sultan Johor, Sultan Ibrahim Syah I yang dibantu oleh Laksemana Tun Abdul Jamil membuka dan membangun Riau sebagai sebuah pelabuhan bebas di Sungai Carang, Pulau Bentan pada tahun 1673 M maka sudah berumur 340 tahun. Tetapi bila dihitung mengambil nama besar Perang Riau , yakni Perang Kerajaan Riau dibawah yang Dipertuan Muda Riau IV, Raja Haji melawan Kolonel Belanda  pada 6 Januari 1784, maka usia Tanjungpinang sudah 229 tahun.
            Dikota Tanjungpinang  dalam rentang masa ratusan tahun itu sudah tumbuh dan berkembang berbagai tradisi,adat istiadat,seni–budaya,kebudayaan,peradaban dan lain sebagainya dalam masyarakat dalam masyarakat Melayu dan etnik lainnya sebagai masyarakat kota Tanjungpinang. Dengan kata lain, dalam rentang masa Kerajaan Melayu  tersebut telah wujud  kebudayaan dan peradaban yang senantiasa pula dikatakan Tamaddun. Kota ini suatu masa pernah menjadi pusat Tamaddun  Melayu yang cemerlang dalam bidang pemerintahan (kerajaan), ekonomi bahasa dan sastra, agama dan teknologi keseharian. Seiring dengan warisan Kerajaan Melayu tersebut, di kota ini juga wujud warisan marga Tionghua (China) dan Kolonel belanda.
            Kota Tanjungpinang diambil dari posisi Tanjungpinang yang menjorok ke laut yang banyak ditumbuhi sejenis pohon pinang (palm). Pohon ini menjadi petunjuk bagi pelayar untuk masuk ke sungai bintan. Nama Tanjungpinang ini secara tertulis pertama kali ditemukan dalam naskah An_nafis dan silsilah Melayu dan Bugis.
            Berdasarkan catatan sejarah , Pulau Bintan dijadikan sebagai bendahara dari kerajaan Malaka, status sebagai bendahara ini berlanjut sampai masa Kerajaan Melayu Johor-Riau (1528-1722). Kemudian pada masa Kerajaan Riau (1722-1911) kedudukan bintan lepas dari pegangan bendahara penyebabnya pusat Kerajaan Melayu Riau dipindahkan  ke kota lama dan Daik Lingga. Sebagai Kerajaan dari Ranah Melayu, Kerajaan Melayu Johor-Riau sering mengalami perpindahan pusat  pemerintah yaitu Johor, Hulu Sungai Riau, Daik dan Penyengat.perpindahan dari Johor ke Hulu Sungai Riau salah satu factor penyebab adanya konflik politik dalam kerajaan Melayu Johor-Riau antara Raja Kecil dengan Para penguasa Kerajaan Melayu Johor-Riau. 
            Peninggalan-peninggalan (warisan) budaya tersebut ada yang tidak bergerak dan ada pula yang bergerak kesemuanya menjadi warisan kota Tanjungpinang yang perlu dilestarikan, dikembangkan dan dimanfaatkan untuk kemajuaan maasyarakat, daerah bahkan bangsa dan Negara. "Peninggalan tersebut kini tersebar didalam wilayah kota Tanjungpinang yang kita sebut sebagai benda cagar budaya dan situs". Keberadaan benda cagar budaya dan situs perlu diketahui khalayak ramai utamanya generasi muda.
            Adapun  benda cagar budaya tersebut yaitu Masjid Raya Sultan Riau atau disebut juga dngan nama Masjid penyengat yang terletak di pulau Penyengat yang selalu dikunjungi baik dari dalam maupun luar negeri. Mesjid Penyengat dibangun pada tahun 1832 semasa pemerintahan yang Dipertuan Muda VI Raja Ja’far (1806-1831) dan dilanjutkan pada masa pemerintahan yang Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rachman (Marhum Kampung Bugis). Bangunan utama berukuran 20 x 18 m yang ditopang oleh 4 tiang dibeton. Pada keempat sudut bangunan dibuat menara tempat bilal mengumandangkan azan.terdapat pula 13 buah kubah, jumlah kubah dan menara 17 buah melambangkan rakaat shalat. Berdasarkan informasi dari masyarakat pulau penyengat pembangunan masjid juga menggunakan putih telur yang dicampur kapur, pasir, dan tanah liat untuk memperkuat struktur dinding / tembok. Luas lahan 54,5x23,5 m dengan dikelilingi tembok. Pintu utama dibagian depan mempunyai 13 anak tangga.disebelah kiri dan kanan masjid terdapat bangunan yang disebut rumah sotoh. Selain masjid penyengat masi banyak lagi situs atau cagar budaya yang terdapat di daerah kota Tanjungpinang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar