SEJARAH KOTA TANJUNGPINANG
Kota
Tanjungpinang termasuk salah satu kota
tertua di Indonesia. Bila dihitung sejak dilantiknya Tengku Sulaiman menjadi
Sultan Riau-Johor-Pahang (Kerajaan Riau) yang berpusat di Hulu Riau –Sungai
Carang, 4 Oktober 1722 maka usia Kota Tanjungpinang sudah berumur 291 tahun.
Jika dimundurkan kepada tatkala dibuka pertama oleh Sultan Johor, Sultan
Ibrahim Syah I yang dibantu oleh Laksemana Tun Abdul Jamil membuka dan
membangun Riau sebagai sebuah pelabuhan bebas di Sungai Carang, Pulau Bentan
pada tahun 1673 M maka sudah berumur 340 tahun. Tetapi bila dihitung mengambil
nama besar Perang Riau , yakni Perang Kerajaan Riau dibawah yang Dipertuan Muda
Riau IV, Raja Haji melawan Kolonel Belanda
pada 6 Januari 1784, maka usia Tanjungpinang sudah 229 tahun.
Dikota
Tanjungpinang dalam rentang masa ratusan
tahun itu sudah tumbuh dan berkembang berbagai tradisi,adat
istiadat,seni–budaya,kebudayaan,peradaban dan lain sebagainya dalam masyarakat
dalam masyarakat Melayu dan etnik lainnya sebagai masyarakat kota
Tanjungpinang. Dengan kata lain, dalam rentang masa Kerajaan Melayu tersebut telah wujud kebudayaan dan peradaban yang senantiasa pula
dikatakan Tamaddun. Kota ini suatu masa pernah menjadi pusat Tamaddun Melayu yang cemerlang dalam bidang
pemerintahan (kerajaan), ekonomi bahasa dan sastra, agama dan teknologi
keseharian. Seiring dengan warisan Kerajaan Melayu tersebut, di kota ini juga
wujud warisan marga Tionghua (China) dan Kolonel belanda.
Kota Tanjungpinang diambil dari
posisi Tanjungpinang yang menjorok ke laut yang banyak ditumbuhi sejenis pohon
pinang (palm). Pohon ini menjadi petunjuk bagi pelayar untuk masuk ke sungai
bintan. Nama Tanjungpinang ini secara tertulis pertama kali ditemukan dalam
naskah An_nafis dan silsilah Melayu dan Bugis.
Berdasarkan catatan sejarah , Pulau
Bintan dijadikan sebagai bendahara dari kerajaan Malaka, status sebagai
bendahara ini berlanjut sampai masa Kerajaan Melayu Johor-Riau (1528-1722).
Kemudian pada masa Kerajaan Riau (1722-1911) kedudukan bintan lepas dari
pegangan bendahara penyebabnya pusat Kerajaan Melayu Riau dipindahkan ke kota lama dan Daik Lingga. Sebagai
Kerajaan dari Ranah Melayu, Kerajaan Melayu Johor-Riau sering mengalami
perpindahan pusat pemerintah yaitu
Johor, Hulu Sungai Riau, Daik dan Penyengat.perpindahan dari Johor ke Hulu
Sungai Riau salah satu factor penyebab adanya konflik politik dalam kerajaan
Melayu Johor-Riau antara Raja Kecil dengan Para penguasa Kerajaan Melayu
Johor-Riau.
Peninggalan-peninggalan (warisan)
budaya tersebut ada yang tidak bergerak dan ada pula yang bergerak kesemuanya
menjadi warisan kota Tanjungpinang yang perlu dilestarikan, dikembangkan dan
dimanfaatkan untuk kemajuaan maasyarakat, daerah bahkan bangsa dan Negara.
"Peninggalan tersebut kini tersebar didalam wilayah kota Tanjungpinang yang kita
sebut sebagai benda cagar budaya dan situs". Keberadaan benda cagar budaya dan
situs perlu diketahui khalayak ramai utamanya generasi muda.
Adapun benda cagar budaya tersebut yaitu Masjid Raya
Sultan Riau atau disebut juga dngan nama Masjid penyengat yang terletak di
pulau Penyengat yang selalu dikunjungi baik dari dalam maupun luar negeri.
Mesjid Penyengat dibangun pada tahun 1832 semasa pemerintahan yang Dipertuan
Muda VI Raja Ja’far (1806-1831) dan dilanjutkan pada masa pemerintahan yang
Dipertuan Muda VII Raja Abdul Rachman (Marhum Kampung Bugis). Bangunan utama
berukuran 20 x 18 m yang ditopang oleh 4 tiang dibeton. Pada keempat sudut
bangunan dibuat menara tempat bilal mengumandangkan azan.terdapat pula 13 buah
kubah, jumlah kubah dan menara 17 buah melambangkan rakaat shalat. Berdasarkan
informasi dari masyarakat pulau penyengat pembangunan masjid juga menggunakan
putih telur yang dicampur kapur, pasir, dan tanah liat untuk memperkuat struktur
dinding / tembok. Luas lahan 54,5x23,5 m dengan dikelilingi tembok. Pintu utama
dibagian depan mempunyai 13 anak tangga.disebelah kiri dan kanan masjid
terdapat bangunan yang disebut rumah sotoh. Selain masjid penyengat masi banyak
lagi situs atau cagar budaya yang terdapat di daerah kota Tanjungpinang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar